Monday, June 24, 2013

perintah tuhan yg harus kita lakukan

Perintah yang Terutama dan yang
Pertama
Kita memiliki kehidupan sebagai
murid yang setia
untuk dibagikan dalam menunjukkan
kasih kita
kepada TUHAN.
Hampir tidak ada kelompok mana
pun dalam
sejarah yang kepadanya saya lebih
bersimpati
kecuali terhadap sebelas Rasul tersisa
segera
setelah kematian TUHAN YESUS
KRISTUS
Juruselamat dunia. Saya rasa kita
terkadang lupa
betapa mereka masih belum
berpengalaman dan
betapa mereka bergantung sepenuhnya
pada
TUHAN YESUS daripada yang
seharusnya.
Kepada mereka TUHAN YESUS
telah berkata,
“Telah sekian lama AKU bersama-
sama kamu,…
namun engkau tidak mengenal
AKU?”
Tetapi, tentu saja, bagi mereka
YESUS KRISTUS
belum berada bersama mereka cukup
lama. Tiga
tahun tidak lama untuk memanggil
seluruh
Kuorum Dua Belas Rasul di antara
segelintir
anggota baru, untuk memurnikan
mereka dari
kesalahan-kesalahan cara lama
mereka, mengajar
mereka mengenai mukjizat Injil
YESUS KRISTUS,
dan kemudian membiarkan mereka
melaksanakan
pekerjaan pelayanan sampai mereka
sendiri
dibunuh. Ini merupakan prospek yang
mengejutkan
bagi sekelompok penatua yang baru
saja
ditahbiskan.
Khususnya bagian mengenai
ditinggalkan sendiri.
Berulang kali TUHAN YESUS
berusaha
memberitahukan mereka TUHAN
YESUS tidak
akan tetap bersama mereka secara
fisik, tetapi
mereka tidak dapat atau tidak mau
memahami
pikiran yang menyedihkan seperti itu.
Markus menulis, “IA sedang
mengajar murid-
murid-NYA. IA berkata kepada
mereka: “Anak
Manusia akan diserahkan ke dalam
tangan
manusia, dan mereka membunuh
DIA, dan tiga
hari sesudah IA dibunuh IA akan
bangkit.
“Mereka tidak mengerti perkataan
itu, namun
segan menanyakannya kepada-NYA.”
Kemudian, setelah waktu yang begitu
singkat
untuk belajar dan bahkan lebih
sedikit waktu
untuk mempersiapkan diri, sesuatu
yang mustahil
terjadi, sesuatu yang luar biasa
terjadi. TUHAN
dan GURU mereka, PENASIHAT
dan RAJA
mereka disalibkan. Pelayanan fana-
NYA berakhir,
dan Gereja kecil yang tengah berjuang
yang
YESUS KRISTUS telah bangun
tampaknya
ditakdirkan untuk dihina dan
ditetapkan untuk
dimusnahkan. Para Rasul-NYA
menyaksikan
YESUS KRISTUS dalam keadaan
dibangkitkan,
tetapi itu juga hanya menambah
kebingungan
mereka. Di saat mereka bertanya,
“Apa yang
harus kita lakukan sekarang?”
mereka berpaling
mencari jawabannya kepada Petrus,
Rasul senior.
Di sini saya meminta izin kepada
Anda untuk
menggunakan beberapa ungkapan
yang tidak saya
kutip langsung dari tulisan suci untuk
menggambarkan percakapan ini. Pada
dasarnya,
Petrus mengatakan kepada rekan-
rekannya:
“Saudara-saudaraku, sungguh
merupakan tiga
tahun yang menyenangkan. Tidak
satu pun dari
kita dapat membayangkan dalam
beberapa bulan
yang begitu singkat kita telah
menyaksikan
mukjizat-mukjizat dan menikmati
keberadaan
bersama-NYA.
Kita telah berbicara, berdoa, dan
bekerja dengan
Putra Tunggal ALLAH Sendiri. Kita
telah berjalan
dengan-NYA dan menangis bersama-
NYA, dan di
malam pada akhir yang mengerikan
itu, tidak
seorang pun menangis begitu keras
daripada saya.
Itu sudah berakhir. DIA telah
menyelesaikan
pekerjaan-NYA, dan DIA telah
bangkit dari
kubur. DIA telah melaksanakan
pekerjaan
keselamatan untuk diri-NYA dan
untuk kita.
Dan Anda bertanya, ‘Apa yang harus
kita lakukan
sekarang?’ Tidak ada yang lebih saya
ketahui
kecuali memberi tahu Anda untuk
kembali pada
kehidupan semula Anda,
menikmatinya. Saya
bermaksud ’pergi menangkap ikan.'
Dan paling
tidak enam dari sepuluh Rasul
lainnya sepakat,
“Kami pergi juga dengan engkau.”
Yohanes, yang
juga salah satu dari mereka, menulis,
“Mereka
berangkat lalu naik ke perahu.”
Tetapi, sayangnya, penangkapan ikan
tidak
berlangsung dengan baik. Malam
pertama mereka
kembali ke danau ― mereka tidak
berhasil
menangkap seekor ikan pun. Saat
fajar
menyingsing, mereka dengan kecewa
kembali ke
arah pantai di mana mereka melihat
di kejauhan
seseorang memanggil mereka, “Hai
anak-anak,
adakah kamu mempunyai lauk-
pauk?” Dengan
perasaan murung para Rasul yang
telah beralih
kembali menjadi penangkap ikan ini
menjawab
bahwa mereka tidak memiliki ikan
untuk bisa
diberikan. “Tidak ada,” mereka
bergumam, dan
rasa kecewa ini diperparah, ketika
mereka
dipanggil dengan sebutan “anak-
anak.”
“Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan
perahu,
maka akan kamu peroleh,” orang
asing itu berseru
— dan dengan kata-kata yang
sederhana itu,
pengakuan mulai mengalir kepada
mereka.
Baru tiga tahun sebelumnya orang-
orang yang
sama ini menangkap ikan di danau
yang sama ini.
Pada kesempatan itu juga telah
“sepanjang malam
kami bekerja keras dan kami tidak
menangkap
apa-apa,” tulisan suci menyatakan.
Tetapi seorang
rekan dari Galilea di pantai
menyerukan kepada
mereka untuk menebarkan jala
mereka, dan
mereka menangkap “sejumlah besar
ikan,” cukup
untuk membuat jala mereka terkoyak,
hasil
tangkapan itu memenuhi dua perahu
demikian
berat sehingga perahu mulai
tenggelam.
Sekarang itu terjadi kembali. “Anak-
anak,” ini
sebagaimana mereka memang pantas
dipanggil,
dengan bersemangat menurunkan jala
mereka, dan
“mereka tidak dapat menariknya lagi
karena
banyaknya ikan.” Yohanes
mengatakan hal yang
jelas, “Itu TUHAN.” Dan pada tepi
perahu itu,
Petrus yang tidak bisa mengendalikan
dirinya
terjatuh.
Setelah reuni yang menyenangkan
bersama YESUS
KRISTUS yang telah bangkit, Petrus
berbicara
dengan TUHAN YESUS KRISTUS
Juruselamat
yang saya anggap sebagai titik balik
yang penting
bagi pelayanan kerasulan secara
umum dan tentu
saja bagi Petrus secara pribadi, yang
mendorong
pria yang keras ini untuk menjalani
kehidupan
dalam pelayanan dan kepemimpinan
yang mulia
penuh pengabdian. Sambil melihat
pada perahu
kecil mereka yang rusak, jala mereka
yang
terkoyak, dan tumpukan 153 ekor
ikan yang
menakjubkan, YESUS KRISTUS
berkata kepada
Rasul senior-NYA, “Simon, anak
Yohanes, apakah
engkau mengasihi AKU lebih dari
pada mereka
ini?” Petrus menjawab, “Benar
TUHAN,
ENGKAU tahu, bahwa aku
mengasihi
ENGKAU.”
YESUS KRISTUS menanggapi
jawaban tersebut,
tetapi terus melihat ke mata murid-
Nya dan
kembali berkata, “Simon, anak
Yohanes, apakah
engkau mengasihi AKU?” Tidak
diragukan lagi
dalam keadaan sedikit bingung atas
pengulangan
pertanyaan tersebut, penjala ikan yang
hebat ini
menjawab untuk yang kedua kalinya,
“Benar
TUHAN, ENGKAU tahu, bahwa
aku mengasihi
ENGKAU.”
YESUS KRISTUS kembali
memberikan jawaban
singkat, tetapi dengan pengamatan
tanpa henti
TUHAN YESUS bertanya untuk
ketiga kalinya,
“Simon, anak Yohanes, apakah
engkau mengasihi
AKU?” Sekarang Petrus tentu merasa
benar-benar
tidak nyaman. Mungkin di dalam
hatinya terdapat
ingatan dari kejadian beberapa hari
sebelumnya
ketika dia telah diberi pertanyaan lain
sebanyak
tiga kalidan dia telah memberikan
jawaban tegas
yang sama — tetapi dengan nada yang
negatif.
Atau mungkin dia mulai bertanya-
tanya dalam
hati apakah dia salah mengerti
mengenai
pertanyaan GURU-NYA. Atau
mungkin
TUHAN YESUS sedang menyelidiki
hatinya,
mencari ketegasan yang jujur terhadap
jawaban
yang telah dia berikan begitu mudah,
hampir
secara otomatis. Apa pun yang dia
rasakan, Petrus
mengatakan untuk yang ketiga
kalinya, “TUHAN,
… ENGKAU tahu, bahwa aku
mengasihi
ENGKAU.”
Di mana TUHAN YESUS menjawab,
(dan di sini
sekali lagi saya menggunakan
penjelasan saya yang
tidak dikutip dari tulisan suci)
mungkin dengan
berkata seperti ini, “Lalu Petrus,
mengapa kamu
berada di sini ?
Mengapa kita kembali ke pantai yang
sama ini,
dengan jala yang sama ini, dengan
percakapan yang
sama seperti ini ?
Bukankah sudah jelas waktu itu dan
bukankah
sudah jelas sekarang bahwa jika
AKU
menginginkan ikan, AKU bisa
mendapatkan ikan ?
Yang AKU butuhkan, Petrus, adalah
murid-murid
— dan AKU membutuhkan mereka
untuk
selamanya. AKU membutuhkan
seseorang untuk
memberi makan domba-KU dan
menyelamatkan
anak domba-KU.
AKU membutuhkan seseorang untuk
mengkhotbahkan Injil-KU dan
membela iman-KU.
AKU membutuhkan seseorang yang
mengasihi-
KU, benar-benar, benar-benar
mengasihi-KU, dan
mengasihi apa yang BAPA kita di
Surga telah
tugaskan untuk kita lakukan. Pesan
kita bukan
pesan yang lemah. Itu bukan tugas
sekilas. Itu
bukan tidak berdaya; itu bukan putus
asa; itu
bukan untuk dibuang dalam
tumpukan abu
sejarah. Itu adalah pekerjaan ALLAH
Yang
Mahakuasa, dan itu untuk mengubah
dunia. Jadi,
Petrus, untuk yang kedua dan
mungkin yang
terakhir kalinya, Petrus, AKU
meminta Anda
untuk meninggalkan semua ini, dan
untuk pergi
dan bersaksi, bekerja dan melayani
dengan setia,
sampai hari di mana mereka akan
berbuat
kepadamu persis seperti apa yang
telah mereka
lakukan pada-KU.”
Kemudian sambil berpaling pada
semua Rasul,
TUHAN YESUS mungkin telah
mengatakan,
sesuatu seperti, “Apakah kamu telah
bertindak
ceroboh seperti para ahli Taurat dan
orang-orang
Farisi ? Seperti Herodes dan Pilatus ?
Apakah
kamu, seperti mereka, mengira bahwa
pekerjaan ini
dapat dihentikan hanya dengan
membunuh-KU ?
Apakah kamu, seperti mereka,
mengira salib dan
paku dan tanah kubur adalah akhir
dari semuanya
dan masing-masing dapat kembali
dengan bahagia
menjadi apa pun yang Anda inginkan
seperti
sebelumnya ? Anak-anak, tidakkah
kehidupan-KU
dan kasih-KU menyentuh hatimu
lebih dalam
daripada itu?”
Brother dan sister yang terkasih, saya
tidak yakin
seperti apa pengalaman kita nanti
pada Hari
Penghakiman, namun saya akan
sangat terkejut
jika pada beberapa hal dalam
percakapan itu,
ALLAH tidak menanyakan kepada
kita secara
tepat apa yang telah YESUS
KRISTUS tanyakan
kepada Petrus: “Apakah engkau
mengasihi
AKU?” Saya berpikir TUHAN
YESUS ingin
mengetahui apakah dalam kehidupan
fana kita,
dalam pemahaman kita yang sangat
tidak
memadai, dan terkadang kekanak-
kanakan
mengenai segala sesuatu, kita
setidaknya
memahami satu perintah, perintah
yang terutama
dan yang pertama, dari semuanya —
“Kasihilah
TUHAN, ALLAHmu, dengan
segenap hatimu dan
dengan segenap jiwamu, dan dengan
segenap
kekuatanmu, dan dengan segenap akal
budimu.”
Dan jika pada saat yang penting
seperti itu kita
dapat menjawab dengan terbata-bata,
“Benar
TUHAN, ENGKAU tahu, bahwa
aku mengasihi
ENGKAU,” maka dapat
mengingatkan kita bahwa
karakteristik utama dari kasih adalah
selalu
kesetiaan.“Jikalau kamu mengasihi
AKU, kamu
akan menuruti segala perintah-KU,”
YESUS KRISTUS berkata. Jadi kita
memiliki
sesama manusia untuk diberkati,
anak-anak untuk
dilindungi, orang yang miskin untuk
diangkat, dan
kebenaran untuk dibela. Kita memiliki
kesalahan
untuk diperbaiki, kebenaran untuk
dibagikan, dan
hal-hal yang baik untuk dilakukan.
Singkatnya,
kita memiliki kehidupan sebagai
murid yang setia
untuk dibagikan dalam menunjukkan
kasih kita
kepada TUHAN. Kita tidak bisa
berhenti dan kita
tidak bisa kembali. Setelah mengenal
PUTRA yang
hidup dari ALLAH yang hidup, tidak
ada sesuatu
apa pun yang sama seperti
sebelumnya.
Penyaliban, Pendamaian, dan
Kebangkitan
TUHAN YESUS KRISTUS menandai
awal dari
kehidupan seperti KRISTUS, bukan
akhir
daripadanya. Adalah kebenaran ini,
kenyataan ini,
yang memperkenankan segelintir
penjala ikan di
Galilea diubah menjadi Rasul yang
tanpa satu pun
sinagoge atau pedang” untuk
meninggalkan jala
mereka kedua kalinya dan pergi untuk
membentuk
sejarah dunia di mana sekarang kita
hidup.
Saya bersaksi dari lubuk hati
terdalam saya,
dengan segenap kekuatan jiwa saya,
kepada semua
yang dapat mendengar suara saya
bahwa kunci-
kunci kerasulan itu telah dipulihkan
ke bumi dan
terdapat dalam Gereja YESUS
KRISTUS dari
Orang-Orang Suci Zaman Akhir.
Bagi mereka
yang belum bergabung dengan kita
dalam tujuan
akhir KRISTUS, kami berkata,
“Silakan datang.”
Bagi mereka yang sebelumnya pernah
bergabung
bersama kita tetapi telah mundur,
lebih menyukai
dan memilih kehidupan duniawi
daripada
Pemulihan Injil dan meninggalkan sisa
perjamuan,
saya berkata bahwa saya takut Anda
menghadapi
malam-malam yang panjang dan jala
yang kosong.
Seruan itu adalah untuk kembali,
untuk tetap
setia, untuk mengasihi ALLAH, dan
untuk
mengulurkan tangan. Saya
menyertakan dalam
imbauan saya tersebut untuk
kesetiaan setiap
purna-misionaris yang pernah berdiri
di kolam
pembaptisan dan dengan lengan
diangkat
mengatakan, “Dengan kewenangan
dari YESUS
KRISTUS.”
Kewenangan itu seharusnya mengubah
orang yang
Anda insafkan untuk selamanya,
namun
kewenangan itu seharusnya telah
mengubah Anda
juga. Bagi remaja Gereja yang sedang
mempersiapkan diri untuk misi dan
bait suci serta
pernikahan, kami berkata, “Kasihilah
ALLAH dan
tetaplah bersih dari noda dan dosa-
dosa angkatan
ini. Anda memiliki pekerjaan yang
sangat penting
untuk dilakukan.” BAPA kita di
Surga
mengharapkan kesetiaan Anda dan
kasih Anda di
setiap tahapan kehidupan Anda.”
Bagi semua yang membaca artikel ini,
suara
YESUS KRISTUS datang di sepanjang
masa
menanyakan kepada kita masing-
masing selagi
masih ada waktu, “Apakah engkau
mengasihi
AKU?” Dan untuk kita masing-
masing, saya
menjawab dengan kehormatan dan
jiwa saya, “Ya,
TUHAN, kami mengasihi
ENGKAU.” Dan
karena kita telah mulai membajak,
kita tidak akan
pernah menoleh ke belakang sampai
pekerjaan
TUHAN ini diselesaikan dan bahwa
kasih kepada
ALLAH dan kepada sesama manusia
akan memberi dampak yg pisitip didalam kehidupan kita.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment